Oleh : Saepullah Sanusi 

Sodoran operasi sunnatullah dalam setiap lekuk dan lingkup wilayah proporsinya, andai ditelisik dari dimensi  karakternya, sesungguhnya sanggup memunculkan aneka seni pembelajaran tersendiri yang sangat berharga. Contoh paling konkret  yang akrab dengan pengalaman konteks kehidupan kita, adalah “hujan”.

“Hujan” sesungguhnya tidak lebih hanyalah peristiwa natural yang berlangsung atas dasar mekanisme kudratullah yang kental dengan usikan kausalitat sunnah-Nya. Namun bagi seorang bijak bestari tidak sesederhana itu. Sebab ia ( hujan ) sarat dengan muatan makna filosofis ( hikmah ) yang cukup dalam. Perhatikan ungkapkan William Shakespeare di bawah ini :

“Be like rain.. wherever it falls, it brings benefit. Do you not see that it makes no distinction when it falls between the palaces of the rich and the houses of the poor?”

“Jadilah kamu seperti hujan. Di mana saja turun, ia selalu memberi manfaat. Coba kamu perhatikan, ketika ia turun tidak membeda-bedakan ruang, apakah di atas gedung-gedung mewah milik orang-orang kaya, atau di atas rumah-rumah reyot milik orang-orang miskin?

Singkatnya, muatan prinsip yang ditarik “hujan” adalah memberi manfaat seluas-luasnya. Lepas dari intrik dikotomis, yang paling penting harus menjadi “rahmatal lil’alamin”. Begitu halnya kita sebagai manusia ( yang terutama) harus lebih dari sekedar hujan dalam memberi nilai manfaat, baik kepada diri sendiri, orang lain ( tanpa membeda-bedakan : ras, suku, golongan, kepercayaan, keyakinan, agama dll), dan maupun kepada alam sekitar .

Andaipun ia (hujan) acap menimbulkan longsor atau banjir, itu bukan karakter aslinya, melainkan makna lain dari sebuah suguhan peristiwa alam yang mesti direnungkan ( mungkin atas ulah manusia sendiri sebagai perusak lingkungan) . Sebab, Rasul saw. tidak pernah menganjurkan ” Shalat Sunat Untuk Menyetop Hujan” . Yang ada adalah “Shalat Sunat Meminta Hujan” ( Istisqa), ketika terjadi kemarau panjang. Di sini sekali lagi menunjukkan, bahwa betapa ( air) hujan amat sangat bermanfaat bagi arti hidup dan kehidupan manusia ( lebih khusus) dan alam sekitar ( pada umumnya).

Wallahu A’lam bi al-Shawab.