MEDIA MATA PENA | PANDEGLANG – Suasana penuh khidmat dan kebersamaan mewarnai peringatan Haul ke-2 Muassis Pondok Pesantren Al-Qur’an Al-Ihsan Kadomas, Mbah Yai Asmuni M. Noor bin Ali, di Pandeglang. Peringatan ini tidak hanya menjadi momentum untuk mendoakan almarhum, tetapi juga ajang mempererat tali silaturahmi antaralumni lintas angkatan sekaligus meneguhkan estafet kepemimpinan pesantren.

Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Serang, H. Uesul Qorni, S.H., M.H., serta jajaran alumni dari berbagai generasi yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Alumni Al-Ihsan Pandeglang (IKBAAL). Dengan mengusung semangat “Berbeda angkatan, satu almamater. Berbeda perjalanan, tetap dalam satu ikatan”, kehaidran para alumni menjadi bukti solidnya komitmen untuk melanjutkan nilai-nilai perjuangan almarhum.

Kepemimpinan dan Khidmah Para Dzurriyah

Pasca-berpulangnya Mbah Yai Asmuni M. Noor, tampuk kepemimpinan Pondok Pesantren Al-Ihsan kini dilanjutkan oleh putra beliau, K.H. Ahmad Syaikhu, M.A., selaku Ketua Yayasan dan Pengasuh Utama. Memadukan latar belakang akademik magister dan penguasaan tradisi pesantren, K.H. Ahmad Syaikhu mengawal kesinambungan manajemen MTs dan MA, memperkuat hubungan antarlembaga, serta memastikan kurikulum Al-Qur’an dan kajian kitab kuning tetap berjalan konsisten.

Keberlanjutan ini didukung penuh oleh khidmah delapan putra-putri serta menantu almarhum (dzurriyah):

•Hj. Naih (Putri Sulung): Hafizah terkemuka di Pandeglang yang membimbing langsung santriwati dalam menghafal Al-Qur’an, menjaga ketepatan tajwid, dan menanamkan akhlak mulia.
•H. Dodi Ahmadi, Lc. dan Dzurriyah Lainnya: Aktif memegang peranan strategis di kepemimpinan Madrasah Aliyah, pembinaan asrama putra, administrasi kelembagaan, hingga pemeliharaan majelis taklim masyarakat.

Kekompakan para dzurriyah ini menjadi cermin bakti abadi kepada orang tua untuk memastikan dakwah Al-Ihsan terus berjalan.

Mutiara Hikmah (Ibrah) Perjalanan Mbah Yai

Peringatan haul ini juga menegaskan empat pelajaran berharga (ibrah) dari rekam jejak kehidupan Mbah Yai Asmuni:

  1. Keajaiban Kalimat Alhamdulillah: Mbah Yai mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia dengan memuji Allah SWT, menandakan keridaan hati yang sempurna atas takdir-Nya.
  2. Husnul Khatimah Buah Keseharian: Karena kesehariannya diisi dengan mengajar Al-Qur’an, mengkaji kitab, berselawat, dan mencintai ulama, almarhum dipanggil wafat di atas mimbar Maulid Nabi di hadapan ribuan jemaah.
  3. Memadukan Al-Qur’an, Kutub, dan Adab: Pentingnya menyatukan ilmu Al-Qur’an, pemahaman kitab ulama, dan adab memuliakan guru agar terhindar dari kesombongan.
  4. Bakti Meneruskan Cita-Cita: Bentuk cinta terbaik kepada guru dan orang tua yang telah tiada adalah dengan menjaga kerukunan dan melanjutkan amal perjuangannya.

Melalui peringatan haul ini, keluarga besar dan alumni berharap keberkahan terus mengalir serta menumbuhkan semangat untuk menjaga nama baik lembaga dan melanjutkan warisan keilmuan Mbah Yai Asmuni M. Noor.