Saepullah Sanusi

“Kekepoan hari” yang rajin mencatat aneka geliat peristiwa yang terjadi di semesta atas dasar karakter siklus naturalnya, sanggup menyadarkan kita untuk memahami dan bahkan sekaligus merawat dan menjaga wasiat alam, supaya ia eksis pada kapasitas serta mekanisme keteraturannya , sehingga keberadaan manfaatnya benar-benar terasa dan abadi.

Hari ini Senin, 7 September 2026 adalah 7 ( tujuh) tahun yang lalu, yakni pada tanggal tersebut Perserikatan Bangsa-Bangsa ( PBB) melalui resolusinya pada tahun 2019 menetapkan, sebagai “Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru (International Day of Clean Air for Blue Skies).

Titik tekan pesan dan harapan yang dikampanyekan olehnya tidak lain, bahwa udara bersih sesungguhnya sudah masuk  zona darurat ( khususnya) bagi kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. Untuk itu, peningkatan kesadaran global dan kolektif serta melakukan aksi nyata untuk mencegah polusi udara adalah sebuah “Sine qua non” yang tidak bisa dibawa ke ruang nego dan kompromi.

Untuk lebih memunculkan pamor  keren , tema yang diusung dalam memperingati hari tersebut, adalah “Clean Air for Climate Action” (Udara Bersih untuk Aksi Iklim).

Muara inti dinamika sasarannya adalah mengkolaborasikan kebijakan penanganan polusi udara dan perubahan iklim secara bersamaan demi mendapatkan manfaat ganda ( co-benefits), baik untuk kesehatan manusia, maupun kelestarian bumi.

Tidak dipungkiri, bahwa pulosi udara adalah risiko lingkungan paling ekstrem yang mengancam kesehatan dan menjadi ( salah satu) penyebab kematian manusia. Pada tahun 2016, mencatat, bahwa angka kematian di seluruh dunia lebih kurang sebanyak 6,5 juta jiwa. Jumlah yang tergolong pantastis.

Di tengah giat kampanye memperingati Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru (International Day of Clean Air for Blue Skies) tersebut, kita dikejutkan dengan erupsi Anak Krakatau. Hal ini sekaligus mengingatkan kita akan peristiwa erupsi paling dahsyat yang terjadi tahun 1883, yang menewaskan lebih dari 36.000 jiwa. Konon dentumannya tercatat sebagai suara terkeras di bumi, dan abu vulkaniknya menurunkan suhu rata-rata global selama beberapa bulan.

Lepas dari sudut pandang apapun, yang pasti ia adalah peristiwa Sunatullah yang niscaya terjadi kapan dan di manapun keberadaannya. Hanya saja, Allah mengingatkan, bahwa  bumi pada gilirannya akan memuntahkan beban isi perutnya. Sehingga membuat panik manusia, seraya berkata keheranan, ” Ada apa ini?” ( وقال الإنسان مالها؟ ).

Hari Udara Bersih Internasional untuk Langit Biru/International Day of Clean Air for Blue Skies), dengan tema  “Clean Air for Climate Action” (Udara Bersih untuk Aksi Iklim), mudah-mudahan membawa kita ke alam keinsapan dan kesadaran, bahwa menjaga polusi udara yang tersebab oleh peristiwa apapun adalah sebuah kemestian.

Arne Næss seorang filsuf asal Norwegia yang dikenal sebagai pencetus dan bapak gerakan Ekologi Mendalam (Deep Ecology), mengatakan :

“The ecological crisis is a crisis of our minds, not just of our technology. By polluting the air, we are not just damaging nature; we are destroying the very fabric of human existence and cutting off our connection to the divine whole.

“Krisis ekologis adalah krisis pikiran kita, bukan sekadar teknologi kita. Dengan mengotori udara, kita tidak hanya merusak alam; kita sedang menghancurkan struktur eksistensi manusia”.

Walhahu A’lam bi al-Shawab.