
KABUPATEN TANGERANG — Pendidikan sekolah dasar sedang menghadapi tantangan baru. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI), budaya digital, perubahan pola asuh, dan tuntutan kompetensi abad ke-21, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan anak membaca, menulis, dan berhitung. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan anak mampu memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi, dan membangun karakter di tengah perubahan zaman.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Nasaruddin, M.Pd., Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Dharma Indonesia (UNDHI). Menurutnya, Kabupaten Tangerang membutuhkan pendekatan pendidikan dasar yang lebih progresif, berbasis kebutuhan peserta didik, dan berorientasi pada kualitas hasil belajar, bukan sekadar rutinitas pembelajaran maupun kelengkapan administrasi.
“Dunia anak sudah berubah, maka pendekatan pendidikan juga harus berkembang. Kita tidak bisa mendidik generasi yang hidup di era kecerdasan buatan dengan pola pembelajaran yang hanya menekankan hafalan. Anak perlu dibimbing untuk memahami, bertanya, menalar, berkreasi, dan menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan persoalan nyata,” ujar Nasaruddin.
Tantangan Baru: Anak Terhubung dengan Internet, tetapi Belum Tentu Memiliki Literasi Digital
Menurut Nasaruddin, salah satu tantangan pendidikan masa kini adalah kesenjangan antara kemampuan menggunakan perangkat digital dan kemampuan memahami informasi secara kritis.
Anak-anak semakin dekat dengan video pendek, gim daring, media sosial, dan berbagai bentuk konten digital. Namun, kedekatan dengan teknologi tidak otomatis membuat mereka mampu membedakan informasi yang benar dan keliru, memahami risiko privasi, atau menggunakan teknologi untuk kepentingan belajar.
Karena itu, literasi digital perlu diperkenalkan secara bertahap sesuai usia, dengan pendampingan guru dan orang tua.
“Anak yang mahir menggunakan telepon pintar belum tentu memiliki literasi digital yang baik. Pendidikan harus membangun kemampuan berpikir kritis, etika, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap keamanan digital. Teknologi seharusnya memperluas pengetahuan anak, bukan justru mengurangi kemampuan mereka untuk berkonsentrasi dan berpikir mendalam,” jelasnya.
Ia menilai, sekolah dasar perlu mengembangkan pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi secara proporsional. Penggunaan perangkat digital harus memiliki tujuan pedagogis yang jelas, bukan sekadar mengikuti tren atau terlihat modern.
Kabupaten Tangerang Perlu Menggeser Orientasi: Dari Mengejar Materi Menuju Memastikan Anak Menguasai Kompetensi
Nasaruddin berpandangan bahwa tantangan mendasar pendidikan dasar adalah memastikan setiap peserta didik benar-benar menguasai kemampuan yang menjadi fondasi pembelajaran.
Anak yang belum memahami bacaan akan menghadapi kesulitan ketika harus mempelajari ilmu pengetahuan, memahami soal matematika, atau menyampaikan gagasan. Demikian pula anak yang belum menguasai numerasi dasar akan mengalami hambatan dalam memahami konsep yang lebih kompleks.
Karena itu, ia mendorong agar sekolah lebih serius mengidentifikasi kemampuan awal siswa dan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan mereka.
“Jangan sampai anak naik kelas, tetapi masih membawa kesulitan belajar yang tidak pernah ditangani secara serius. Kita perlu memastikan bahwa setiap anak benar-benar berkembang. Keberhasilan pendidikan bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak materi yang selesai diajarkan, melainkan oleh seberapa jauh pengetahuan dan kemampuan anak meningkat,” tegasnya.
Menurutnya, guru dapat memanfaatkan asesmen diagnostik sederhana, pengamatan kelas, tugas kontekstual, dan evaluasi berkala untuk mengetahui perkembangan siswa. Hasil evaluasi tersebut kemudian digunakan untuk menyesuaikan strategi pembelajaran, bukan semata-mata memberikan angka pada rapor.
Guru Masa Kini Harus Menjadi Perancang Pengalaman Belajar
Perubahan zaman juga menuntut transformasi peran guru sekolah dasar. Guru tidak lagi cukup diposisikan sebagai sumber utama informasi, karena peserta didik dapat menemukan berbagai informasi melalui teknologi digital. Tantangan guru justru semakin besar dalam membantu anak memahami, memverifikasi, dan menggunakan informasi secara tepat.
Nasaruddin menilai bahwa guru masa kini perlu menguasai pembelajaran aktif, pembelajaran berdiferensiasi, penguatan karakter, asesmen formatif, dan pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan siswa.
Ia juga menyoroti pentingnya mengurangi beban administratif yang tidak esensial agar guru memiliki lebih banyak waktu untuk merancang pembelajaran, berdiskusi dengan rekan sejawat, dan mendampingi siswa yang membutuhkan perhatian khusus.
“Guru masa kini bukan sekadar penyampai materi, melainkan perancang pengalaman belajar. Guru harus mampu menciptakan kelas yang membuat anak berani bertanya, tidak takut melakukan kesalahan, dan terbiasa mencari solusi. Untuk mewujudkan hal tersebut, guru juga membutuhkan dukungan, pelatihan yang relevan, dan lingkungan kerja yang sehat,” ungkapnya.
Ia mendorong penguatan komunitas belajar guru di Kabupaten Tangerang sebagai ruang kolaborasi untuk mengembangkan metode pembelajaran yang efektif dan berbagi solusi atas persoalan nyata di kelas.
Jangan Sampai Digitalisasi Memperlebar Kesenjangan Pendidikan
Dalam pandangan Nasaruddin, transformasi digital pendidikan harus berjalan beriringan dengan pemerataan kualitas layanan. Ketersediaan perangkat, koneksi internet, bahan ajar digital, dan kompetensi guru tidak selalu sama di setiap sekolah.
Oleh sebab itu, program digitalisasi perlu didasarkan pada pemetaan kebutuhan sekolah, kesiapan infrastruktur, dan kemampuan pendidik dalam memanfaatkan teknologi.
Ia mengingatkan bahwa sekolah yang memiliki fasilitas lengkap tidak seharusnya menjadi satu-satunya pihak yang menikmati manfaat transformasi digital.
“Digitalisasi pendidikan akan kehilangan maknanya apabila hanya menguntungkan sekolah yang sudah maju. Kita harus memastikan sekolah yang masih menghadapi keterbatasan juga memperoleh pendampingan, akses sumber belajar, dan dukungan yang sesuai. Inovasi pendidikan harus memperkecil kesenjangan, bukan memperlebarnya,” katanya.
Ia mengusulkan agar pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, dan mitra masyarakat membangun program pendampingan yang terarah, terutama untuk sekolah yang membutuhkan penguatan literasi, numerasi, kompetensi guru, dan pemanfaatan teknologi pembelajaran.
PGSD Tidak Boleh Hanya Mencetak Sarjana, tetapi Harus Menyiapkan Guru yang Siap Menghadapi Realitas Kelas
Sebagai dosen PGSD Universitas Dharma Indonesia, Nasaruddin menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyiapkan calon guru sekolah dasar yang adaptif dan profesional.
Mahasiswa PGSD perlu dibekali bukan hanya teori pendidikan, tetapi juga kemampuan mengelola kelas yang beragam, memahami psikologi perkembangan anak, merancang pembelajaran yang inklusif, menggunakan teknologi secara bijak, dan melakukan evaluasi pembelajaran berbasis kebutuhan siswa.
Menurutnya, hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah dasar perlu diperkuat melalui praktik lapangan yang terarah, penelitian terapan, pendampingan guru, dan pengembangan inovasi pembelajaran.
“Calon guru harus memahami realitas kelas, bukan hanya memahami teori di ruang kuliah. Mereka perlu belajar menghadapi perbedaan kemampuan siswa, membangun komunikasi dengan orang tua, dan mencari solusi atas hambatan belajar. Kualitas pendidikan dasar sangat dipengaruhi oleh kualitas guru yang kita persiapkan hari ini,” ujarnya.
Ia berharap perguruan tinggi dapat menjadi mitra aktif dalam membantu sekolah meningkatkan mutu pembelajaran, sekaligus menjadikan Kabupaten Tangerang sebagai ruang kolaborasi bagi pengembangan inovasi pendidikan dasar yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Tiga Agenda yang Perlu Dipercepat
Untuk menjawab tantangan pendidikan dasar di Kabupaten Tangerang, Nasaruddin menawarkan tiga agenda strategis.
Pertama, gerakan penguatan kompetensi dasar siswa. Sekolah perlu memiliki strategi yang terukur untuk meningkatkan kemampuan membaca dengan pemahaman, menulis, dan numerasi. Kemajuan siswa harus dipantau secara berkala agar anak yang mengalami kesulitan segera memperoleh pendampingan.
Kedua, transformasi pembelajaran dan penguatan kapasitas guru. Pelatihan guru harus terhubung langsung dengan praktik di kelas. Komunitas belajar, pendampingan, refleksi pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi secara tepat perlu diperkuat agar inovasi menghasilkan perubahan nyata.
Ketiga, kolaborasi pendidikan berbasis data. Pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, orang tua, dan masyarakat perlu membangun kerja sama yang memiliki sasaran jelas. Program pendidikan harus dirancang berdasarkan kebutuhan sekolah, dilaksanakan secara konsisten, dan dievaluasi menggunakan indikator yang terukur.
Menurutnya, agenda tersebut harus menjadi proses berkelanjutan, bukan sekadar program sesaat. Perubahan kualitas pendidikan membutuhkan konsistensi kebijakan, dukungan anggaran, kepemimpinan sekolah yang efektif, dan keterlibatan masyarakat.
Masa Depan Pendidikan Tidak Ditentukan oleh Teknologi, tetapi oleh Kualitas Manusia yang Menggunakannya
Nasaruddin menegaskan bahwa kemajuan pendidikan tidak dapat diukur hanya melalui banyaknya perangkat digital, penggunaan aplikasi, atau perubahan metode pembelajaran. Ukuran utamanya tetap pada perkembangan kemampuan anak, kualitas interaksi pembelajaran, pembentukan karakter, dan pemerataan kesempatan belajar.
Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan di Kabupaten Tangerang untuk menjadikan sekolah dasar sebagai pusat pembangunan manusia yang berorientasi pada masa depan.
“Teknologi akan terus berkembang, tetapi anak tetap membutuhkan guru yang membimbing, lingkungan yang aman, pengalaman belajar yang bermakna, dan pendidikan karakter yang kuat. Kita harus menyiapkan generasi yang bukan hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga mampu berpikir mandiri, beradaptasi, dan menciptakan solusi,” tuturnya.
Ia menambahkan, investasi terbaik bagi masa depan Kabupaten Tangerang bukan hanya pembangunan fisik, melainkan juga investasi pada kualitas guru, kemampuan dasar peserta didik, budaya literasi, dan ekosistem pembelajaran yang berkelanjutan.
“Jangan hanya bertanya apakah anak-anak kita sudah bersekolah dan menggunakan teknologi. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah mereka benar-benar belajar, berkembang, dan memiliki bekal untuk menghadapi masa depan? Dari pertanyaan itulah transformasi pendidikan dasar harus dimulai,” pungkas Nasaruddin.

