
JAKARTA – Memasuki kuartal keempat tahun 2026, PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV PalmCo) mematangkan strategi operasional dan finansial untuk memastikan pencapaian target akhir tahun perusahaan. Melalui Rapat Pimpinan (Rapim) Q4 yang melibatkan jajaran Dewan Komisaris, Direksi, Kepala Divisi, hingga Regional Management, perusahaan sepakat untuk memprioritaskan peningkatan volume direct export (ekspor langsung) Crude Palm Oil (CPO), efisiensi biaya, serta transformasi menuju tata kelola kebun presisi.
Akselerasi Ekspor dan Kendali Biaya
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menegaskan bahwa optimalisasi sisa waktu di dua bulan terakhir difokuskan pada pengawalan produksi secara ketat dari hulu ke hilir. Langkah ini dibarengi dengan inisiatif efisiensi terstruktur guna menjaga daya saing biaya produksi dan profitabilitas.
“Tahun ini kita melakukan inisiatif untuk memperluas pasar melalui direct export. Namun, kuncinya tetap berada pada pengawalan produksi di lapangan, memastikan kepastian pasokan, serta menjaga mutu yang ketat mulai dari proses di pabrik hingga manajemen logistik. Di sisi lain, kita terus menekan cash cost melalui inisiatif Go Lean dan Go Secure agar margin perusahaan tetap terjaga secara fundamental,” ujar Jatmiko.
Optimalisasi Aset dan Nilai Tambah Green Business
Selain fokus operasional inti, Jatmiko juga menggarisbawahi pentingnya manajemen aset yang terukur serta optimalisasi inisiatif green business. PTPN IV PalmCo memastikan seluruh aset perusahaan terkuasai secara fisik dan tuntas secara legalitas guna memitigasi risiko operasional. Secara paralel, perusahaan juga memaksimalkan nilai tambah dari pengolahan limbah sawit, seperti pemanfaatan fasilitas methane capture dan optimalisasi penjualan cangkang sawit.
Smart Plantation sebagai Kunci Daya Saing
Sejalan dengan visi direksi, Komisaris Utama PTPN IV PalmCo Desrial mengingatkan bahwa keunggulan operasional perusahaan perkebunan ke depan tidak lagi diukur semata-mata dari seberapa luas lahan yang dimiliki, melainkan dari tingginya capaian produktivitas per hektare dan ketepatan alokasi biaya.
Menurut Desrial, tuntutan industri saat ini mengharuskan perusahaan untuk beralih pada penerapan Smart Plantation yang secara efektif mengintegrasikan mekanisasi lapangan dengan sistem digitalisasi perusahaan.
“Transformasi ini adalah keharusan. Eksekusi operasional yang didukung oleh mekanisasi akan menjamin standarisasi proses dan efisiensi waktu, sementara digitalisasi memastikan setiap pelaporan dan pengambilan keputusan manajerial terkalibrasi secara objektif, cepat, dan berbasis data mutakhir. Keduanya harus berjalan beriringan agar corrective action di lapangan dapat dilakukan seketika,” tegas Desrial.
Penegakan GCG dan Kepatuhan Berlapis
Dewan Komisaris juga menyoroti pentingnya penegakan Good Corporate Governance (GCG) di seluruh level manajemen. Pematuhan pada Standar Operasional Prosedur (SOP) dan Instruksi Kerja (IKA) wajib menjadi pedoman harian, dengan pengawasan berjenjang yang dimulai dari lapisan eksekutor pertama guna memastikan tidak ada celah terhadap potensi penyimpangan administratif maupun operasional.
Melalui sinkronisasi antara agresivitas pencapaian target produksi, perluasan pasar global, dan pengawasan internal yang ketat, PTPN IV PalmCo optimistis tren kinerja positif yang telah terbentuk hingga kuartal ketiga dapat terus terakselerasi guna mencatatkan pencapaian optimal di penutup tahun buku 2026.

