TANGERANG, BANTEN — Pendidikan sekolah dasar merupakan fondasi utama dalam membentuk kualitas sumber daya manusia dan menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, peningkatan mutu pendidikan dasar di Provinsi Banten harus menjadi perhatian bersama, terutama dalam memastikan bahwa setiap anak memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas, merata, dan relevan dengan tantangan zaman.

Kepala Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Dharma Indonesia (UNDHI), Sina Wardani Siregar, M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan dasar tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian administratif dan penyelesaian kurikulum, tetapi harus berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir, pembentukan karakter, serta penguatan kompetensi dasar peserta didik.

Menurutnya, sekolah dasar merupakan fase pendidikan yang sangat menentukan perkembangan intelektual, sosial, emosional, dan moral anak. Oleh sebab itu, kualitas pembelajaran pada jenjang ini perlu ditempatkan sebagai prioritas dalam agenda pembangunan pendidikan di Banten.

“Pendidikan dasar adalah fondasi bagi masa depan generasi Banten. Jika sejak sekolah dasar anak-anak mendapatkan pembelajaran yang bermutu, penguatan karakter yang konsisten, serta kesempatan mengembangkan potensinya, kita sedang menyiapkan generasi yang lebih adaptif, kritis, kreatif, dan berdaya saing,” ujarnya.

Literasi dan Numerasi Harus Menjadi Prioritas Pembelajaran

Sina Wardani Siregar menilai bahwa penguatan literasi dan numerasi harus menjadi perhatian utama dalam peningkatan mutu sekolah dasar. Kemampuan membaca tidak cukup dimaknai sebagai kecakapan mengenali kata, tetapi juga kemampuan memahami informasi, menafsirkan makna, mengembangkan gagasan, dan berpikir kritis.

Demikian pula numerasi, yang tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan berhitung, tetapi juga kecakapan menggunakan konsep matematika untuk memahami dan menyelesaikan persoalan kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kedua kemampuan tersebut merupakan fondasi bagi keberhasilan peserta didik dalam mempelajari berbagai bidang ilmu pada jenjang pendidikan berikutnya.

“Anak-anak perlu dibiasakan untuk memahami, bukan sekadar menghafal; bernalar, bukan hanya mengikuti contoh; serta berani bertanya dan menyampaikan pendapat. Pembelajaran yang bermutu harus membantu anak memahami apa yang dipelajari dan bagaimana pengetahuan itu digunakan dalam kehidupan nyata,” jelasnya.

Ia mendorong sekolah-sekolah di Banten untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan berpusat pada peserta didik, dengan tetap memperhatikan perbedaan kemampuan serta kebutuhan belajar setiap anak.

Kualitas Guru Menjadi Kunci Perubahan Pendidikan

Dalam perspektif pendidikan guru sekolah dasar, Sina menegaskan bahwa kualitas guru merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga merancang pengalaman belajar, membangun motivasi, mengembangkan potensi anak, dan menciptakan lingkungan kelas yang aman serta inklusif.

Karena itu, peningkatan kompetensi guru harus dilakukan secara berkelanjutan melalui penguatan kemampuan pedagogik, penguasaan materi, pemanfaatan teknologi pendidikan, dan pemahaman terhadap karakteristik perkembangan peserta didik.

Di samping itu, dukungan terhadap kesejahteraan guru, pemerataan distribusi tenaga pendidik, dan pengurangan beban administratif yang tidak esensial perlu menjadi bagian dari perhatian para pemangku kebijakan.

“Guru yang berkualitas membutuhkan ekosistem yang mendukung. Kita tidak bisa hanya menuntut guru untuk terus berinovasi tanpa memberikan kesempatan belajar, pendampingan profesional, fasilitas yang memadai, dan penghargaan yang layak terhadap profesinya,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun komunitas belajar guru yang memungkinkan para pendidik saling berbagi praktik baik, mendiskusikan persoalan pembelajaran, serta melakukan refleksi berdasarkan perkembangan hasil belajar peserta didik.

Pendidikan Karakter Tidak Boleh Kehilangan Tempat

Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi, pendidikan karakter tetap menjadi unsur yang tidak terpisahkan dari pendidikan dasar. Nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, gotong royong, dan penghormatan terhadap perbedaan perlu ditanamkan melalui keteladanan dan kebiasaan sehari-hari.

Sina berpandangan bahwa pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui penyampaian nasihat atau kegiatan seremonial. Nilai-nilai tersebut harus hadir dalam budaya sekolah, interaksi guru dan peserta didik, proses pembelajaran, serta hubungan sekolah dengan keluarga.

“Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Kita juga perlu membentuk anak-anak yang memiliki integritas, kepedulian sosial, kemandirian, dan tanggung jawab. Kecerdasan tanpa karakter tidak akan menjadi fondasi yang kokoh bagi kemajuan masyarakat,” tegasnya.

Menurutnya, sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat menjadi penting agar nilai-nilai yang ditanamkan di ruang kelas dapat diperkuat dalam kehidupan sehari-hari.

Transformasi Digital Harus Berorientasi pada Kebutuhan Anak

Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan turut membawa tantangan baru bagi pendidikan dasar. Sekolah perlu mempersiapkan peserta didik agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Namun, Sina mengingatkan bahwa digitalisasi pendidikan tidak boleh hanya diukur dari jumlah perangkat yang tersedia atau aplikasi yang digunakan. Ukuran utamanya adalah sejauh mana teknologi mampu membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran dan memudahkan peserta didik memahami materi.

“Teknologi harus menjadi alat untuk memperkaya pembelajaran, bukan sekadar simbol modernisasi sekolah. Penggunaannya harus sesuai dengan usia dan kebutuhan perkembangan anak, disertai pendampingan guru, perlindungan anak di ruang digital, serta perhatian terhadap pemerataan akses,” tuturnya.

Ia menilai bahwa kompetensi digital guru perlu dikembangkan bersamaan dengan kemampuan memilih sumber belajar yang kredibel, merancang aktivitas pembelajaran yang bermakna, dan menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dengan interaksi sosial serta pengalaman belajar langsung.

Perguruan Tinggi dan Program Studi PGSD Harus Hadir untuk Sekolah

Sebagai Kepala Program Studi PGSD Universitas Dharma Indonesia, Sina Wardani Siregar menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menyiapkan calon guru sekolah dasar yang kompeten, reflektif, adaptif, dan memiliki komitmen terhadap profesinya.

Program studi PGSD tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan teori pendidikan. Mahasiswa juga perlu memperoleh pengalaman praktik yang memadai, kemampuan merancang pembelajaran, keterampilan melakukan asesmen, pemahaman psikologi perkembangan anak, serta kemampuan menyelesaikan persoalan nyata di sekolah.

Menurutnya, penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah dasar, pemerintah daerah, dan komunitas guru merupakan langkah penting untuk mempertemukan teori akademik dengan kebutuhan praktis di lapangan.

“Calon guru harus dipersiapkan untuk menghadapi realitas kelas yang beragam. Mereka perlu memahami bahwa setiap anak memiliki karakteristik, kemampuan, latar belakang, dan kebutuhan belajar yang berbeda. Di sinilah kompetensi pedagogik dan kepekaan kemanusiaan seorang guru benar-benar diuji,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa program studi PGSD perlu terus mengembangkan pembelajaran berbasis praktik, penelitian pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, serta kemitraan dengan sekolah untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar.

Melalui pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga calon pendidik yang siap berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Pendidikan Banten Membutuhkan Kebijakan Berbasis Data

Sina juga mendorong agar peningkatan mutu pendidikan dasar di Provinsi Banten dilakukan melalui pemetaan kebutuhan yang akurat dan evaluasi program secara berkelanjutan.

Pemerintah perlu memperhatikan berbagai indikator, seperti kemampuan literasi dan numerasi peserta didik, kompetensi guru, ketersediaan sarana pembelajaran, kondisi lingkungan sekolah, serta kesenjangan kualitas layanan pendidikan antardaerah.

Menurutnya, kebijakan yang baik harus berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi sekolah. Program peningkatan mutu tidak seharusnya diseragamkan tanpa mempertimbangkan perbedaan kondisi wilayah, karakteristik peserta didik, dan kesiapan sumber daya masing-masing sekolah.

“Pendidikan membutuhkan kebijakan yang berpihak kepada kebutuhan belajar anak. Setiap program harus memiliki tujuan yang jelas, indikator keberhasilan yang terukur, dan evaluasi yang memastikan bahwa manfaatnya benar-benar dirasakan oleh sekolah, guru, dan peserta didik,” ujarnya.

Ia menilai bahwa pendekatan berbasis data dapat membantu pemerintah menentukan prioritas anggaran, memperkuat intervensi pada sekolah yang membutuhkan dukungan lebih besar, serta memastikan keberlanjutan program peningkatan mutu pendidikan.

Menyiapkan Generasi Banten dari Ruang Kelas

Menutup pandangannya, Sina Wardani Siregar menegaskan bahwa masa depan pendidikan Banten sangat ditentukan oleh keseriusan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat fondasi pembelajaran sejak sekolah dasar.

Anak-anak yang saat ini duduk di bangku SD merupakan calon pemimpin, tenaga profesional, ilmuwan, pendidik, dan penggerak pembangunan pada masa mendatang. Oleh karena itu, setiap upaya meningkatkan kualitas pembelajaran harus dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan daerah.

“Jangan pernah memandang pendidikan sekolah dasar sebagai urusan kecil. Di ruang kelas itulah rasa ingin tahu tumbuh, karakter dibentuk, kemampuan berpikir dikembangkan, dan cita-cita mulai dirancang. Masa depan Banten tidak hanya dibangun melalui infrastruktur fisik, tetapi juga melalui kualitas manusia yang dipersiapkan sejak dini,” pungkasnya.

Ia berharap peningkatan kualitas pendidikan dasar di Banten dapat menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, guru, orang tua, masyarakat, dan perguruan tinggi. Dengan komitmen yang konsisten, pendidikan dasar diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, kreatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Tentang Program Studi PGSD Universitas Dharma Indonesia

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Dharma Indonesia merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menyiapkan calon pendidik sekolah dasar yang profesional dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. Melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, program studi diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan ilmu pendidikan, peningkatan kompetensi guru, serta penguatan kolaborasi dengan sekolah dan masyarakat.