

SERANG — Taman Wisata dan Rekreasi Tasik Kardi, yang berlokasi di RT 009/RW 003, Kampung Margasana, Kelurahan Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, Banten, kini kondisinya sangat memprihatinkan dan mendesak memerlukan perhatian serius dari Disporapar Kab. Serang. Minggu, 20 September 2026.
Tasik Kardi bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan destinasi wisata bersejarah peninggalan Kesultanan Banten. Kompleks ini memiliki sebuah danau dan pulau buatan yang menurut sejarah merupakan tempat bertapakur ibunda Sultan Maulana Yusuf, sekaligus tempat rekreasi keluarga Keraton serta penerimaan tamu kesultanan — yang dikenal dengan sebutan Kaputren.
Danau Tasik Kardi dibangun pada kurun waktu 1570–1580 Masehi, pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf, terletak di sebelah tenggara Keraton Surosowan. Selain nilai sejarah, danau ini berfungsi sebagai tempat penampungan air dari Sungai Cibanten yang kemudian mengalirkan air ke sawah-sawah sekitarnya, sekaligus menjadi sumber air bersih bagi keluarga Keraton Surosowan pada masa itu.
Sayangnya, warisan berharga ini kini tampak kurang terawat. Pintu masuk dan papan nama bertuliskan “Destinasi Wisata religius dan Rekreasi” tidak terpasang rapi, banyak huruf yang hilang sehingga tulisan tidak terbaca sempurna. Warga berharap pemerintah daerah segera memperhatikan agar tempat wisata ini kembali layak dan menarik dikunjungi.
“Harusnya ini ada perhatian dari Disparopar Kab. Serang agar tempat wisata ini terlihat menarik lagi,” ujar warga setempat, Haer dan Anis, saat berbincang dengan awak media pada Minggu, 20 September 2026.
Dengan tarif tiket masuk sebesar Rp10.000 per kendaraan bermotor, tempat ini seharusnya ramai pengunjung, terutama saat musim liburan. Namun kenyataannya, Tasik Kardi justru sepi pengunjung.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian agar warisan sejarah Kesultanan Banten ini dapat terjaga, tertata, dan kembali menjadi destinasi wisata religius yang membanggakan masyarakat Kabupaten Serang. (Red)

