Dalam proses menjalankan hidup adalah tentang perubahan dan pertumbuhan kontinu, Doa yang belum tersamoaikan atau bahkan terjawab manusia tetap dalam proses menjadi becoming yaitu proses berusaha dan berharap didalam ketidakpastian justru melainkan inti dari estetika hidup manusia. Tanpa adanya jarak antara kemauan dan pemenuhan hidup akan kehilangan dinamika.

Doa bukan sekedar daftar permintaan atau pencatatan semata melainkan sebuah proses aktip menuju transformasi diri (becoming) untuk mencapai derajat spritual dan moral yang lebih tinggi. Manusia bukan sebagai makhluk yang statis melainkan makhluk yang dinamis atau makhluk yang terus menerus berproses (in the making) menuju kesempurnaan menghamba kepada allah SWT sebagai penciptanya.

Dalam tradisi umat islam doa ini dimohonkan dan atau dipanjatkan untuk memohon kekuatan diri, kemuliaan disisi Allah SWT serta peningkatan ketakwaan. Seperti doa meminta ditinggikan derajat dan kekuatan spiritual seperti doa:

” ya allah, sesungguhnya aku ini lemah maka kuatkanlah aku, sesungguhnya aku ini hina, maka muliakanlah aku, dan sesungguhnya aku fakir, maka kayakanlah aku, wahai maha dzat yang pengasih.

Ketinggian spritual dicapai melalui keseimbangan antara ibadah ritual dan kepedulian sosial. Manusia sering berjalan dengan keangkuhan diatas bumi, padahal langit yang begitu agung dan tanpa tiangpun tidak pernah merasa tinggi.

Dari sini kita belajar bahwa tujuan hidup bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk memahami makna ketundukkan dan keseimbangan dihadapan allah swt.