
Mediamatapena.com | Jakarta – Kondisi kepemudaan di Sulawesi Utara, khususnya di tubuh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), masih berada dalam situasi yang penuh dengan dinamika. Perpecahan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir membuat KNPI sebagai Payung Organisasi Yang Harusnya menjadi pionir pembangunan dan persatuan pemuda belum sepenuhnya mampu menjalankan perannya sebagai rumah besar bagi seluruh unsur kepemudaan di daerah. Di tengah situasi tersebut, melihat dinamika tersebut melalui SK Nomor : KEP. 301/DPP KNPI/VIII/2026, DPP KNPI membentuk tim caretaker DPD KNPI Sulawesi Utara yang diharapkan menjadi momentum baru untuk membuka ruang rekonsiliasi, memperkuat komunikasi, dan mengembalikan KNPI sebagai wadah persatuan pemuda Sulawesi Utara.
Turunnya caretaker merupakan bagian dari mandat DPP KNPI untuk menjalankan roda organisasi sekaligus mempersiapkan pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) DPD KNPI Sulawesi Utara. Setelah kepemimpinan Yopie Saraung meninggalkn kepemimpinan DPD KNPI Sebelumnya, keberadaan caretaker diharapkan dapat mengisi ruang konsolidasi organisasi yang selama ini mengalami stagnasi sekaligus mempersiapkan lahirnya kepemimpinan baru yang mampu merepresentasikan seluruh unsur kepemudaan di Sulawesi Utara.
Wakil Ketua Tim Caretaker DPD KNPI Sulawesi Utara, Radinal Muhdar, ketika dihubungi menegaskan bahwa mandat yang diberikan kepada tim caretaker bukan sekadar menjalankan agenda administratif organisasi, melainkan mempersiapkan Musda yang dapat melahirkan kepemimpinan baru dan mampu mempersatukan seluruh unsur pemuda Sulawesi Utara.
“Tugas kami adalah menjalankan mandat DPP KNPI untuk melaksanakan Musda dan melahirkan kepemimpinan DPD KNPI Sulawesi Utara yang mampu mempersatukan semua unsur pemuda Sulawesi Utara,” ujar Radinal.
Menurutnya, KNPI harus kembali ditempatkan sebagai ruang bersama bagi seluruh elemen kepemudaan, mulai dari kelompok Cipayung, OKP, OKPI, hingga berbagai organisasi dan komunitas kepemudaan lainnya. Perbedaan latar belakang organisasi, pilihan, maupun kepentingan tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup ruang komunikasi dan kerja sama antarpemuda.
Radinal berharap proses menuju Musda 2026 dapat menjadi ruang terbuka untuk membangun kembali silaturahmi dan komunikasi dengan seluruh elemen kepemudaan. Tim caretaker, katanya, akan berupaya membuka komunikasi dengan unsur Cipayung, OKP, OKPI, para senior dan pendahulu KNPI, maupun berbagai pihak yang selama ini memiliki perhatian terhadap perkembangan organisasi kepemudaan di Sulawesi Utara.
“Kami ingin KNPI menjadi wadah pemersatu Cipayung, OKP, OKPI dan seluruh unsur kepemudaan di Sulawesi Utara tanpa membeda-bedakan. Kami percaya bahwa pada dasarnya tujuan kita sama, yaitu membangun peradaban daerah melalui persatuan pemuda,” katanya.
Bagi Radinal, persatuan pemuda bukan sekadar persoalan internal organisasi, tetapi berkaitan langsung dengan masa depan pembangunan daerah. Pemuda merupakan salah satu kekuatan penting dalam menentukan arah perubahan sosial, ekonomi, politik, dan pembangunan Sulawesi Utara. Karena itu, energi pemuda seharusnya diarahkan untuk menghasilkan gagasan dan kerja nyata, bukan habis dalam konflik serta persaingan internal yang tidak produktif.
“Daerah akan sulit berkembang jika para pemudanya yang menjadi tulang punggung dan bagian penting dari pembangunan masih sibuk saling sikut dan berpecah belah, apalagi jika hanya karena kepentingan pribadi atau kelompok tertentu yang lebih kecil dibandingkan kepentingan bersama sebagai pemuda untuk membangun Sulawesi Utara yang lebih baik dan maju ke depan,” tegasnya.
Ia menilai momentum caretaker harus dilihat sebagai kesempatan untuk membuka ruang baru bagi semua pihak yang masih merindukan persatuan kepemudaan di Sulawesi Utara. Karena itu, proses menuju Musda tidak boleh hanya dipandang sebagai agenda pergantian kepemimpinan, tetapi sebagai proses rekonsiliasi untuk membangun kembali kepercayaan antarelemen pemuda.
Musda DPD KNPI Sulawesi Utara tahun 2026 diharapkan menjadi titik balik bagi perjalanan organisasi. Kepemimpinan yang lahir nantinya diharapkan bukan hanya mendapatkan legitimasi organisatoris, tetapi juga mampu merepresentasikan semangat persatuan seluruh unsur kepemudaan di Sulawesi Utara. Dengan demikian, KNPI dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai rumah besar yang mempertemukan berbagai perbedaan dalam satu kepentingan bersama.
“Kami ingin Musda ini menjadi ruang persatuan. Karena itu, kami akan terus membuka silaturahmi dan komunikasi dengan semua pihak untuk menerima saran dan masukan mengenai langkah yang ideal dalam menyukseskan Musda,” ujar Radinal.
Pada akhirnya, keberhasilan Musda tidak hanya ditentukan oleh siapa yang nantinya terpilih sebagai Ketua DPD KNPI Sulawesi Utara, tetapi juga oleh sejauh mana seluruh unsur kepemudaan bersedia menjadikan momentum tersebut sebagai awal baru. Rekonsiliasi, persatuan, dan kerja bersama harus menjadi fondasi agar KNPI tidak kembali terjebak dalam fragmentasi kepentingan.
Tim caretaker pun berharap seluruh elemen pemuda dapat bergandengan tangan menyukseskan Musda DPD KNPI Sulawesi Utara 2026 dengan semangat yang lebih besar daripada sekadar memenangkan kepentingan kelompok. Harapannya, lahir kepemimpinan KNPI yang mampu membawa seluruh unsur kepemudaan berada dalam satu barisan dan satu semangat untuk berkontribusi bagi pembangunan daerah.
Dari ruang rekonsiliasi inilah diharapkan lahir kembali rumah besar persatuan pemuda Sulawesi Utara—dengan satu komando, satu semangat, dan satu tujuan untuk membawa pemuda Sulawesi Utara menuju daerah yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan di gerbang Asia Pasifik.

