Oleh: Saepullah Sanusi, M.Ag Akademisi

Allah, eksis pada dua kapasitas yang berbeda. Pertama, sebagai Tuhan Yang Maha Esa ( Allahu Ahad). Kedua, sebagai pembuat aturan ( al-Syari’).

Akan halnya manusia sebagai hamba-Nya, jelas membutuhkan kedekatan dirinya dengan Dia. Mengingat, sadar serta menyadari, bahwa ia adalah wujud yang teramat, sangat dan sungguh lemah. Hingga totalitas daya, upaya dan kekuatannya menyoko dan bergantung kepada-Nya  (prinsip Hauqalah).

Dalam tataran konteks pendekatan dirinya (seorang hamba) dengan Dia, Syeikh Ibn ‘Athaillah al-Sakandari membaginya ke dalam dua kategori, yaitu :

  قوم أقامهم الحق لخدمته وقوم اختصهم بمحبته
   
“Yang pertama, adalah sosok komunitas, dimana mereka menegakkan kebenaran hanya semata wujud pengabdian kepada-Nya. Dan yang kedua, sosok komunitas yang diistimewakan Allah, karena kemahabahan (kecintaan mereka) kepada-Nya”.

Baik komunitas yang pertama, maupun yang kedua, sesungguhnya mereka sama, yakni merasa ingin dekat dengan-Nya, sehingga mencintai dan dicintai oleh-Nya. Hanya saja dibedakan oleh ikhtiar masing-masing.

Komunitas pertama, karena belum bisa menduduki maqam ‘Arifin ( mereka yang telah ma’rifat kepada Allah), masih level ahli Ibadah. Ikhtiar mereka untuk mendekatkan diri kepada-Nya dilakukan secara “bottom up”. Yakni melalui sikap komitmen untuk melaksanakan segala aturan ( syar’iat) yang telah Dia berlakukan. Mengingat Dia berkapasitas sebagai pembuatnya, (Syar’i). Tegasnya, apa yang mereka lakukan baru sebatas wujud pengkhidmatan/pengabdian terhadap diri-Nya (masih terikat prosedur lahir ( zhahirul ‘amal/syari’at).

Sementara komunitas yang kedua, ikhtiar mereka dalam mendekatkan diri kepada Allah, dilakukan secara “Top Down” . Yakni langsung ke titik sentral kapasitas-Nya sebagai al-Wahidu al-Qadir ( Dzat Yang Maha Tunggal serta Maha Kuasa). Adapun modal utamanya, adalah dengan menumpahkan rasa “mahabah” kepada-Nya.

Ketika “mahabah” telah mengejawantah pada diri mereka ( al-‘Arifin), maka pengkhidmatan/pengabdian telah tertutup (terwakili) olehnya ( mahabah). Dengan kata lain, “setiap mahabah”,  sudah “pasti berkhidmat”; tapi tidak setiap “berkhidmat”, mesti “mahabah”.  Oleh karena itu, logis adanya, andai oleh Ibn ‘Athaillah ia ( mahabah) dianggap sebagai keistimewaan tersendiri, yang khusus diberikan kepada para hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Sebagai dampaknya, ketika mereka mahabah kepada Allah dengan sebenar-benar mahabah; maka Allah pun akan berbuat serupa ( mahabah) kepada mereka. Dan manakala telah terbangun dua kekuatan mahabah, yakni “mahabah hakiki” yang orbit dari Allah, sebagai Khaliq, dan “mahabah ‘aradhi” yang orbit dari mereka sebagai Makhluk ( hamba) , puncaknya Dia mengatakan, ” Allahu Ma’akum Ainama Kuntum ” ( Allah bersama kamu, di manapun kamu berada, al-Hadid : 4 ).

Namun demikian, berkait dengan urusan pahala masing-masing ( dari dua komunitas tersebut), beliau ( Syeikh Ibn ‘Athaillah), mengatakan :

أن الله يمد الفريقين، فالعابد يأخذ مدداً لخدمته، والعارف يأخذ مدداً لمحبتِهِ، وكلٌ يجد ثمرة سعيه، .فالعطاء الإلهي لا يُمنع عن أحد

“Allah memberi jaminan kepada dua komunitas ini. Al’aabid (seorang pelaku ibadah/orang biasa), dia mengambil bagian/jatah karena wujud pengabdiannya. Sementara al-‘Arif ( orang pintar) dia mengambil bagian/jatah, karena mahabahnya. Masing-masing mendapat buah (pahala) dari hasil usahanya. Jelasnya, pemberian ( anugerah) ilahi, tidak menjadi penghalang bagi siapapun”.